BERITA JAKARTA – Pembukaan sekolah tatap muka pada Juli 2021 terus mengundang pro kontra. Orangtua khawatir anak akan tertular COVID-19 ketika proses pembelajaran tersebut sudah berlangsung.

Apalagi, vaksin virus corona anak belum ada. Hal itu semakin membuat pihak yang kontra enggan menyekolahkan anaknya selain di rumah.

COVID-19

Di sisi lain, tak sedikit juga orangtua dan murid yang ingin kembali belajar di sekolah asalkan sesuai protokol kesehatan. Pemerintah tentu memiliki pertimbangannya sendiri ketika memutuskan hal ini.

Namun, tak ada salahnya kita mengetahui kondisi yang sebenarnya dan memberikan masukan terkait kebijakan sekolah tatap muka selama pandemi.

Sementara itu, munculnya klaster sekolah di beberapa daerah yang sudah melaksanakan kegiatan tatap muka terlebih dahulu bukan isapan jempol belaka.

Contoh kasus yang pertama terjadi di Padang Panjang, Sumatra Barat, Maret 2021. Semuanya berawal dari satu orang siswa yang merasa fungsi indra penciumannya bermasalah.

Anosmia memang menjadi salah satu gejala khas coronavirus. Selepas itu, 43 siswa yang satu lingkungan dengan murid tersebut dinyatakan positif.

Pihak Dinas Kesehatan Padang Panjang meminta siswa yang tidak terinfeksi langsung dipulangkan ke daerah masing-masing.

Sedangkan, mereka yang positif harus melakukan isolasi mandiri di asrama sekolah. Belum diketahui pasti apakah sekolah langsung ditutup atau tidak.

Masih di bulan yang sama dengan kasus pertama, kejadian selanjutnya terjadi di kota Bandung.

Berawal dari 16 siswa yang terinfeksi covid tetapi mereka tetap mengikuti kegiatan masa orientasi sekolah karena merasa sehat (tanpa gejala).

Ratusan siswa dan tenaga pendidik kemudian dites. Sekolah pun ditutup untuk menghindari penyebaran yang lebih masif.

Contoh kasus yang berikutnya bukan datang dari murid, melainkan guru. Meski tidak melakukan kegiatan belajar-mengajar di kelas, mereka tertular dari kegiatan di asrama.

Guru yang tidak enak badan tetap memaksakan diri untuk mengikuti kegiatan tersebut. Akhirnya, ia menularkan virus SARS-CoV-2 kepada orang lain.

Dengan adanya contoh-contoh kasus di atas, sebenarnya sudah terlihat bahwa sekolah tatap muka di masa pandemi cukup berisiko menciptakan klaster baru.

Dokter Sara Elise Wijono, M.Res, mengatakan, “Kalau dari sisi medis, pastinya orang yang berkumpul seperti belajar di sekolah akan lebih berisiko dibanding belajar di rumah. Namun, pemerintah mungkin punya pertimbangan khusus terkait hal ini.”

“Beberapa hal yang mungkin bisa meminimalkan kejadian di atas adalah semua guru harus divaksinasi dulu. Pertimbangkan dengan kapasitas sekolah supaya ada physical distancing.”

“Sekolah outdoor bisa dilakukan bila kondisinya memungkinkan. Apabila hanya bisa dilakukan indoor, sirkulasi udaranya harus bagus dan banyak ventilasi,” saran dr. Sara.

Baik pihak sekolah, guru, maupun murid harus berkomitmen untuk tetap menerapkan protokol kesehatan.

Jangan biarkan euforia bertemu teman-teman di sekolah membuat aspek penting seperti memakai masker dan menjaga jarak dilupakan.

Hingga saat ini, vaksin virus corona anak dengan batas usia 16 tahun memang belum ada.

Namun, dr. Sara mengungkapkan Pfizer sedang memulai trial atau uji coba vaksin tersebut. “Belum ada hasilnya terkait uji coba tersebut,” kata dr. Sara.

Uji klinis membutuhkan ribuan relawan anak untuk mengetes efikasi dan keamanan vaksin.

Awalnya, ilmuwan akan mengujinya pada anak usia 12 tahun ke atas. Jika sudah aman, pemberian uji klinis akan diturunkan ke usia-usia yang lebih muda lagi, termasuk bayi.

Selain Pfizer, beberapa merek seperti Moderna, Johnson & Johnson, dan Sinovac juga sedang mengembangkan serta melakukan uji klinis vaksin coronavirus untuk anak. Belum diketahui pasti kapan anak-anak bisa mendapatkan vaksin tersebut.

Kita masih menunggu hasil dari uji klinis dulu. Apabila sudah terbukti aman dan efektif, penyuntikan bisa dimulai.